Minggu, 15 Agustus 2010

Pendidikan Bagi Muslimah, Perlukah?

Begitu pentingnya ilmu pengetahuan, sehingga ia menjadi kata kunci bagi perempuan untuk bisa berperan dengan baik di rumah tangga, lingkungan serta dalam masyarakatnya. Hal ini tentu sangat menarik untuk kita bahas, karena kita sebagai muslimah tentu akan menjalankan peran sebagai hamba Allah, istri, ibu serta sebagai anggota masyarakat.
 Untuk sampai pada titik pembahasan tulisan ini tentang peran pendidikan terhadap diri seorang muslimah, rasanya sangat perlu penulis singgung sedikit beberapa hal berikut; pentingkah cerdas itu? Perlukah muslimah mengecap dunia pendidikan? Bagaimana antusiasnya para sahabiyah dalam menuntut ilmu?. Diakhir tulisan ini penulis akan mencoba untuk memaparkan sedikit mengenai peran pendidikan bagi muslimah.
Pentingkah ilmu pengetahuan itu
Ilmu pengetahuan merupakan sebuah harga mati yang tidak dapat ditawar lagi untuk mendapatkan kesuksesan. Siapa yang menginginkan kebahagiaan dunia maka dapat ia peroleh dengan modal ilmu. Begitu juga dengan kebahagiaan akhirat dapat digapai dengan ilmu pengetahuan.
Sebaliknya, dunia akan terasa gersang dan hampa dalam kegelapan kebodohan. Bila segala tindakan perbuatan hanya bersandarkan pada taklid buta. Bahkan landasan untuk berbuat sesuatu yang sangat besarpun hanya mengacu pada tradisi sesat. Oleh sebab itu ilmu pengetahuan amat berperan penting dalam melakoni peran hidup ini. Ilmu menjadi jalan untuk sampai kepada segala kebaikan. Karena itu, Allah swt menurunkan wahyu pertama pada nabi," Bacalah" (Qs al-Alaq1). Dalam surat lain "katakanlah adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"( Qs az-Zumar 9).
Dalam buku "Tsaqafah Ad-Da'iyah", Yusuf Qardhawi mampu menarik makna halus dengan sangat indah dari firman Allah Swt,
" Mereka menanyakan kepadamu: " Apakah yang dihalakan babagi mereka?" katakanlah " dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melaqtihnya untuk berburu, kamu mengajarnyamenurut apayang telah diajarkan Allah kepadamu, maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu…"(Qs al_Maidah 4)
Maka sungguh diistimewakan anjing yang telah diajarkan berburu dari anjing-anjing lain yang belum terlatih, dengan bolehnya memakan hasil tangkapannya. Dari sini dapat kita petik makna halus dibaliknya, bahwa Allah mengangkat derajat ilmu walaupun pada anjing sekalipun.
Dr Akram ridhapun dalam bukunya " kaifa Takunin mutsaqafah fikran wa 'amalan wa sulukan?" menekankan pentingnya ilmu sebelum beramal.
Menjadi Perempuan Cerdas , Mengapa Tidak?
 Ada sebuah paradigma keliru yang menjalar hampir di seluruh pemikiran masyarakat awam . Bahwa perempuan., tidak perlu untuk terlalu aktif menuntut ilmu, karena akhirnya ia akan mengurusi rumah keluarga dan anak-anak. Sedikit banyaknya asumsi seperti ini menurunkan semangat muslimah dalam belajar.
Dari satu sisi, benar kalau seorang perempuan nantinya akan berperan sebagai istri, ibu bagi anak-anaknya. Tetapi untuk menjalankan peran penting itu harus dengan ilmu. Sehingga dengan tarbiyah seorang ibu yang bermutsaqafah akan melahirkan ulama-ulama besar. Dapat kita lihat sejarah membuktikan bahwa dibalik keberhasilan Imam syafi'i adalah tarbiyah dan kasih sayang ibunya .
Tidak hanya itu, perempuan selayaknya harus mengetahui tentang hukum-hukum agama. Wajib bagi mereka untuk mengetahui hukum Thaharah, shalat, puasa, hal-hal yang dihalalkan serta yang di haramkan.
 Sayyidah aisyah patut menjadi contoh dalam pengetahuan agamanya yang dalam. Tak heran Istri rasul Yang cerdas ini termasuk salah seorang perawi yang banyak meriwayatkan hadist nabi saw. Karena kecerdasan dan kedalaman pengetahuannya tentang agama ia di kenal dengan " Afqahu nisail ummah". 
Retorikanya yang fasih serta balaghahnya yang tinggi hingga tidak ada satupun wanita yang bisa menandinginya di zaman itu. Bahkan setelah wafatnya baginda Rasulullah saw, para sahabat tak jarang meminta keterangan tentang kebenaran sebuah hadist kepada Aisyah R.a.
Tiada seorangpun yang setara ilmunya, apalagi dapat menandingi sayyidah Aisyah dalam persoalan persoalan agama. Az-Zuhri berkata: "Sekiranya ilmu yang ada pada diri Aisyah  dihimpun dan dipertandingkan dengan ilmu yang dimiliki oleh seluruh wanita, maka tidak ada yang dapat melebihi ilmu yang ada pada beliau".
Antusiasnya Para sahabiyat
Suatu hal yang sangat dikagumi sekali adalah semangat para sahabiyat dalam menuntut ilmu. Sampai-sampai Sayyidah Aisyah memuji wanita Anshar, karena mereka banyak bertanya tentang masalah yang berhubungan dengan agama. Aisyah berkata, " Sebaik-baik wanita adalah wanita dari golongan anshar. Mereka tidak terhalang oleh rasa malu untuk mempelajari masalah-masalah agama dan hukum –hukumnya"
 Almujahid berkata," Bahwa tiada yang mempelajari ilmu dari kelompok yang pemalu dan seorang yang sombong". Kegemaran bertanya hingga suatu masalah benar-benar terukir di pemikiran mereka.
Dulu, ketika para sahabat mendomisili majlis rasul, para sahabiyat berkata," Wahai rasulullah kaum lelaki telah banyak menimpa ilmu darimu, sementara kami tidak. Berilah kami waktu seperti mereka ". Akhirnya Rasulullah Saw memberikan kesempatan kepada para sahabiyat untuk belajar langsung darinya pada hari tertentu.
Jadi, hak dan kesempatan untuk memperoleh pendidikan sama baik bagi perempuan ataupun laki-laki.. karena keduanya mempunyai tanggung jawab masing-masing. Kalau kita lihat dalam kesetaraan pendidikan, Islam menyerukan dan mengajak untuk melatih anak anak perempuan sebagaimana ia menyuruh dan mengajak untuk untuk mendidik anak laki laki. Rasulullah Saw bersabda, " Tidak ada pemberian yang terbaik yang di berikaan orang tua kepada anaknya, selain pendidikan yang baik"( Hr. Tirmidzi)
Peran Pendidikan Terhadap Muslimah
Sebelum kita membahas tentang  peranan pendidikan terhadap muslimah, sebaiknya kita lebih dahulu mengetahui peranan muslimah itu sendiri. Pada dasarnya, seorang muslimah memiliki 3 peranan penting Dalam hidupnya.Yang pertama sebagai hamba Allah swt. Yang kedua perannya di dalam rumah tangga sebagai istri sekaligus sebagai ibu dari anak2nya. Dan yang ketiga, peranan seorang muslimah di dalam masyarakat. Dari ketiga peranan ini, diperlukanlah ilmu pengetahuan guna menjalani peranan tersebut, baik yang bersifat horizontal maupun vertikal.
Allah berfirman dalam surat Ali imran yang artinya:" Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka memelihara hubungan dengan Allah dan hubungan sesama manusia"
MUSLIMAH SEBAGAI HAMBA ALLAH
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa manusia tiada diciptakan kecuali hanya untuk menjadi hamba yang selalu beribadah kepada Allah Swt. Baik perempuan maupun laki-laki. Dalam beribadah sangat di utamakan "shohihul ibadah" yang tidak dapat kita ketahui kecuali dengan menyesuaikan dengan al-Quran dan Sunnah yang menjadi 2 sumber petunjuk dalam hidup kita.Betapa banyaknya kita lihat kaum muslimin yang beribadah tanpa berdasarkan ilmu. Sedangkan diterima atau tidaknya ibadah seorang hamba juga ditentukan oleh benar atau tidaknya cara mereka beribadah.
Muslimah sebagai Istri dan Ibu
Muslimah mutsaqafah yang mempunyai pemahaman yang matang terhadap agamanya akan menjalankan perannya dengan baik. Dia tahu kewajibannya terhadap Allah Swt, sehingga tidak melalaikan perintahnya.  Muslimah sebagai seorang istri dengan ilmu yang didapatkannya akan mampu menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri Shalehah, dan ibu yang dapat menjadi contoh bagi anak-anaknya.
Dalam mendidik anak diperlukan sebuah keterampilan dan ilmu khusus, yang kelak dapat menghantarkan anak kita menjadi anak-anak yang soleh. Sebaliknya Dapat kita bayangkan apabila sebuah keluarga yang  tidak memiliki seorang ibu yang cerdas. Tentulah urusan rumah tangga tidak dapat terkendali dengan baik dan menimbulkan efek negatif terhadap pendidikan anak. Bobroknya mental dan tingkah laku remaja  berawal dari pendidikan dan kasih sayang yang kurang dari orang tuanya. Ataupun pendidikan yang salah.
Muslimah sebagai anggota masyarakat
Kewajiban amar ma'ruf nahi munkar tidaklah hanya dibebankan kepada kaum adam saja. Tetapi laki-laki dan perempuan mempunyai tanggung-jawab yang sama dalam hal ini. Islam sendiripun tidak menghendaki insan muslim muslimah) bersikap egois, dengan cara mengamalkan Islam untuk dirinya sendiri, tanpa "menularkan" kenikmatan berislam kepada orang lain. Itu kenikmatan parsial, kalau tidak dikatakan semu. Sebab itu, bukan tabi'at dan karakter islam
Ada satu hal yang perlu digaris bawahi, pentingnya ilmu pengetahuan untuk melakoni peran itu. Disinilah peran penting ilmu pengetahuan untuk mewujudkan masyarakat madani. Masyarakat yang didambakan setiap umat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar